Selasa, 24 November 2009

Prof. Dr. Akhmaloka Akhirnya Terpilih Menjadi Rektor ITB 2010-2014

Akhirnya, rektor ITB yang baru untuk masa jabatan 2010-2014 telah terpilih. Beliau adalah Prof. Dr. Akhmaloka, yang saat ini juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Matematika dan IPA ITB. Beliau berhasil mengungguli dua calon lain yaitu Wakil Rektor Senior Bidang Akademik dan dosen Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan ITB Adang Surahman, dan Ketua Dewan Pembina Klub Guru Indonesia serta dosen Fakultas Teknik Sipil Lingkungan ITB Indra Djati Sidi.


Proses pemilihan rektor ITB ini pada mulanya diikuti oleh 22 calon, kemudian dipilih 10, lalu, 3, dan akhirnya 1. Banyak calon yang bertumbangan di tengah jalan sebelum akhirnya dihasilkan 3 finalis. Terpilihnya Akhmaloka sebagai rektor ITB periode 2010-2014, Senin (23/11) malam sempat mengejutkan karena salah satu calon yang belum bergelar profesor saat mencalonkan diri. Namun, pengumuman resmi yang dirilis Majelis Wali Amanat (MWA) ITB menyebutnya Prof. Dr. Akhmaloka. Ia memang baru saja mendapat gelar tersebut beberapa hari sebelum pemilihan. Akhmaloka menerima gelar profesor pada 19 November 2009.

Pemilihan berlangsung tertutup di Kantor Menteri Pendidikan Nasional, Jakarta, dengan cara voting. Dari hasil penghitungan suara ketiga calon rektor, Prof. Dr. Akhmaloka unggul dengan perolehan 19 suara; jauh bila dibandingkan dengan Prof. Dr. Ir. Adang Surahman, M.Sc yang memperoleh 5 suara dan 3 suara untuk Indra Djati Sidi, Ph.D.

Perlu diketahui, Akhmaloka merupakan calon termuda di antara tiga calon Rektor ITB (saat ini berumur 48 tahun). Pria kelahiran Cirebon, 1 Februari 1961 itu adalah lulusan Kimia ITB angkatan 1985 dan menamatkan pendidikan doktor di University of Kent, Canterbury, Inggris. Mudah-mudahan dengan terpilihnya orang-orang muda bisa memberikan warna yang berbeda dan kedinamisan yang positif bagi Kampus ITB.

Selamat Pak! Semoga makin jaya ITB tercinta.. Menjadikannya kembali sebagai KAMPUS RAKYAT, bukan KAMPUS ELITE RAKYAT..

Untuk Tuhan, Bangsa, dan Almamater! Merdeka!

Minggu, 22 November 2009

MELAKUKAN PENUMPUKAN DAN PENIMBUNAN HARTA (3)

Etika dalam membelanjakan harta mencakup skala prioritas, keseimbangan, harta yang dicintai, menyegerakan dan kelebihan dari kebutuhan pokok. Skala prioritas dalam membelanjakan harta terdapat dalam surat Al Baqarah ayat 215 : Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: ”Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui. Dari Abu Hurairah r.a., dia berkata :”Seseorang menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : Wahai Rasulullah s.a.w. aku memiliki uang satu dinar, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluanmu sendiri. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan istrimu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi. Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan anakmu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Belanjakanlah untuk keperluan pembantumu. Dia berkata lagi : Aku memiliki satu dinar lagi yang lain, apa yang harus aku lakukan dengannya? Rasulullah s.a.w. bersabda : Kamu tentunya lebih tahu dengan urusanmu sendiri (Ibnu Hibban).

Keseimbangan dalam membelanjakan harta, seperti disebutkan dalam surat Al Furqaan ayat 67 : Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak (pula) kikir dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.

Membelanjakan harta yang sempurna adalah dengan harta yang dicintai. Dalam surat Ali Imran ayat 92 : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. Dari Anas r.a., dia berkata :”Abu Thalhah adalah orang terkaya dari kaum Anshar di Madinah.Harta miliknya yang paling ia cintai adalah kebun Bairaha’ yang menghadap masjid, Rasulullah s.a.w. sering memasukinya dan minum dari mata airnya. Anas r.a. berkata : ”Ketika turun ayat, Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya, maka Abu Thalhah segera menghadap Rasulullah s.a.w. seraya berkata : ”Sesungguhnya Allah Allah SWT. telah berfirman : Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya dan sesungguhnya hartaku yang paling aku cintai adalah kebun Bairaha’ dan sungguh itu aku telah sedekahkan untuk Allah SWT. yang dengannya aku mengharapkan kebaikan dan pahala di sisi Allah SWT. oleh karena itu wahai Rasulullah, pergunakan kebun itu untuk apapun yang engkau kehendaki”. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda :”Bagus, harta itu pasti menguntungkan. Harta itu pasti menguntungkan. Aku mendengar pernyataanmu dan aku berpendapat lebih baik kamu memberikan kepada kerabatmu.” Sebaliknya Rasulullah s.a.w. melarang menimbun harta, termasuk menimbun barang dagangan pada saat harga akan naik. Diriwayatkan dari Ma’mar bin Abdullah r.a.,ia berkata : “Rasulullah s.a.w. pernah bersabda : Barangsiapa menimbun barang dagangannya (harganya naik), maka ia berdosa (Muslim).

Increase Page Rank for Blogger and your site

 

My Blog List

Site Info

Followers

Community Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template